Senin, 12 September 2016

Iman dan Kesabaran (Ibadah Pemuda GKS Lambanapu) oleh Pnt. Enos Nggongu, S.Pd


Iman dan Kesabaran




Ibarani 6:11-12
6:11 Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya,
6:12 agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah.




Rekan-rekan pemuda, Kalau kita mau memperoleh Janji dari Tuhan apapun itu. Contohnya Keselamatan buat anggota keluarga kita, kesembuhan dari penyakit-penyakit kita, pacar buat yang belum punya, jodoh buat yang belum punya pasangan, yang sudah punya pasangan kita rindu punya keluarga yang harmonis, Lulus buat yang masih sekolah, kuliah buat yang sudah lulus SMA. apapun itu janji Tuhan, kan janji Tuhan itu ada banyak mulai dari Kejadian sampai Wahyu. Mana yang merupakan prioritasmu, mana yang merupakan Visi atau tujuan mu. Hari tidak mungkin Tuhan berbicara dari Kejadian sampai Wahyu kepada kita. Tetapi mungkin ada satu dua tiga janji yang akan Tuhan genapi dalam dua tiga minggu ini.
Rekan-rekan pemuda, ada sesuatu yang Tuhan ucapkan dalam diri kita yang tidak sama dengan orang yang ada di sebelah kita. Dan untuk memperoleh janji itu, kita butuh dua hal ini yaitu Iman dan Kesabaran. Tidak bisa salah satu, harus kedua-duanya perlu. Sebab kadang-kadang ada janji yang lebih dari 3 minggu, atau mungkin sampai bulan dan tahun baru kita peroleh. Karena itu, Iman saja tanpa Kesabaran maka iman itu akan kehabisan gas  dan nyala apinya belum setengah jalan dan padam. Namun juga kalau sabar melulu dan tidak mengklaim apa, atau meminta apa-apa, maka orang seperti itu tidak akan pernah menghargai perjanjian Tuhan dengan umat-Nya. Sama juga kalo orang yang punya asuransi kesehatan contohnya; kalau tidak pernah pakai saat pergi ke dokter atau rumah sakit maka akan menjadi sia-sia. Itulah sebabnya salah satu aktifitas doa adalah meminta. Meminta yang dilandasi dengan ucapan syukur kepada Tuhan Yesus.
Rekan-rekan pemuda, karena itu jangan pasif doang. Orang Kristen harus bisa menggunakan sejata rohaninya. harus melatih imannya. Yesus sendiri memperingatkan, mintalah, ayo mintah lah. samapai sekarang engkau belum minta apa-apa karena murid-murid dirundung dengan duka. mereka sedih sekali waktu itu karena Yesus mati, mereka tidak mengerti untuk apa Yesus mati. Tuhan bilang minta dong, sampai sekarang kamu belum minta apa-apa. Mintalah agar sukacita Bapa-Ku penuh dalam dirimu, kamu belum memperoleh apa-apa karena kamu belum meminta (kata Yakobus). Mintahlah, mintahla, tidak apa-apa kalau meminta. Kita orang Kristen diajarkan hal yang sederhana untuk meminta. Waktu kita mau makan sekalipun itu uang kita yang kita pakai untuk membeli makanan, tapi kita tetap minta berkat Tuhan atas makanan kita. Tuhan terima kasih atas makanan ini berkatilah (belajar ketika Tuhan Yesus memecahkan roti untuk memberi makan 5000 orang. mintalah, Tuhan tidak keberatan untuk dimintai. Asal kita minta dengan sopan dan dengan hormat kepada Tuhan. Malah orang yang tidak pernah minta itu pertanda tidak percaya kepada Tuhan. Contoh bayangkan kita punya anak, dia mau perlu apa pun tapi tidak pernah minta apa-apa, lama-lama kita sebagai ayah akan makan hati kan. Contoh lain pacar kita (bagi yang cowo), dia tidak pernah minta apa-apa, malahan dia mungkin mintanya di orang lain, pasti kita akan merasa kesal dan jengkel. pasti kita akan bilang “kamu ini anggap aku siapa? kamu tidak pernah minta kepada saya, malahan kamu minta ke orang lain.”. Lain cerita kalo pacar yang main minta melulu. 
Rekan-rekan pemuda, jadi jangan pernah menganggap bersalah kalau meminta kepada Tuhan. jadi untuk memperoleh janji Tuhan, kita membutuhkan kedua-duanya. yaitu Iman dan Kesabaran. Dalam Ibarani. 6:11-12, dikatakan “agar kamu jangan menjadi lamban”. Perhatikan ini. Menjadi lamban, Iman dan Kesabaran. Kalau Iman dan lamban sih tidak punya seninonim sama sekali. Iman itu orang mengasosiasikan atau menghartikan dengan sesuatu, klaim sesuatu, minta sesuatu, percaya sesuatu. Tapi kesabaran yang sering disalah artikan dengan lamban. Sabar dan Lamban itu tidak sama loh. Iman dan Kesabaran itu untuk memperoleh janji Tuhan merupakan aktifitas. Iman aktif, semua orang pasti setuju. tapi kalo sabar aktif atau tidak? banyak orang beranggapan sabar itu bukan kata aktif.
Rekan-rekan pemuda, Dibutuhkan tenaga yang eksra untuk sabar ketimbang kalau kita marah, tau gak Rekan-rekan pemuda, Sabar itu aktif. contohnya ada satu orang buat kita jengkel. sebenarnya dibutuhkan tenaga yang dobel untuk menaham amarah dan tetap sabar dari pada untuk menonjok dia. Sabar itu kata aktif, sabar itu tidak sama dengan lamban. sering kita melihat orang yang loyo, noe-noe, kerja pun lamban, sering kita bilang orang itu sabar, orang pelan tidak tentu sabar. Pernah lihat mereka marah gak? atau orang aktif belum tentu pemarah. Jangan salah asosiasikan pelan itu sabar. By the way sabar itu tidak lamban lho, sabar itu mengisi waktunya dengan yang berguna sementara menunggu. Sabar itu tidak sama dengan buang waktu, menganggur, gigit jari menantikan nasib. Sabar itu adalah sebuah strategi untuk mengalihkan perhatian kita kepada hal-hal yang berguna. Kepada hal-hal yang bermanfaat dan membangun. Orang itu kalau bisa tidak marah kepada satu orang, pada hal dia bisa melakukannya, orang seperti itu adalah orang yang hebat bisa mengendalikan dirinya, pengendalian diri sedemikian hebatnya. karena befikir orang yang hendak dimarahnya memiliki orang lain yang mencintainya.
Rekan-rekan pemuda, What is Faith? iman itu perasaan gak ya? banyak orang sering berdoa minta iman diperbesar. iman merasa mantap gitu. Iman is not feeling. Jadi apa itu iman. Iman itu bukan perasaan, iman itu keputusan bulat untuk percaya Tuhan apa pun yang kita rasakan. Apapun perasaan di dada kita, membuat iman kita membuat kita hidup pada prinsip yang ada di firman Allah. kita tidak mau kompromikan?. Iman itu bukan perasaan Rekan-rekan pemuda.
Rekan-rekan pemuda, mungkin kita sering berfikir mungkinkah Tuhan menjawab doa saya, lebih mantap kalau yang berdoa adalah pendeta atau pelayan Tuhan. Manusia selalu ada alasan untuk merasa disisikan oleh Tuhan. Kita selalu punya alasan untuk tidak beriman. Ingat semua alasan untuk tidak beriman itu hanyalah alasan. Iman itu di hati, bukan dari pada tubuh kita atau siapa kita. Tidak tergantung siapa kita atau profesi kita. Sering kita berkata “Aku ini kurang baca alkitab, masa Tuhan dengar doa ku ya”. pisahkan kedua hal itu. Kalau belum baca alkitab bacalah. Jangan pernah menganggap Tuhan akan menjawab doa kita kalau kita baca alkitab. Tuhan menjawab doa kita bukan karena kita layak, tapi karena Dia memang Tuhan. Jadi kalo belum baca alkitab jangan merasa tertuduh, tapi mesti rasa rugi. Karena kasih karunia kita dijawab oleh Tuhan. Baca alkitab bukan syarat melainkan sukacita.

Rekan-rekan pemuda, teruslah berdoa, berharap, terus ingatkan Allah ada doa yang belum Ia jawab. Terus berdoa dan memperbaharui iman.  Mengingatkan Tuhan itu sebenaya berguna bagi kita, supaya kita siap ketika Tuhan memberi kepada kita. 

Minggu, 29 Mei 2016

MENJAGA KESEIMBANGAN MELALUI KEPEDULIAN UNTUK SALING MEMBERI IBADAH OIKUMENE MINGGU, 29 MEI 2016 GKS LAMBANAPU

KHOTBAH
IBADAH OIKUMENE MINGGU, 29 MEI 2016 GKS LAMBANAPU
oleh
Pdt. Yantina Tamu Ina, S.SiTeol
 
Nats Pembimbing : Yohanes 7:37-39a
Berita Anugerah   : Yohanes 3:16
Nats Renungan    : 2 Korintus 8:13-15
8:13           Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan.
 8:14          Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan  mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan.
 8:15          Seperti ada tertulis: "Orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan "


MENJAGA KESEIMBANGAN MELALUI KEPEDULIAN
UNTUK SALING MEMBERI

Saudara-saudara yang terkasih di dalam Yesus Kristus, saya kira kita pernah dengah pribahasa yang berkata, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Peribahasa yang sederhana ini, mau menggambarkan bahwa kehidupan kita manusia saling melengkapi. Peribahasa yang sederhana ini mau menyadarkan kepada kita bahwa sesungguhnya, keberadaan kita berarti bagi orang lain dan kita juga diingatkan bahwa ternyata kita tidak bisa hidup sendiri di dunia ini. Karena memang, kita diciptakan untuk saling melengkapi dari segi segala hal. Hal inilah yang mau kita sama-sama lihat dan renungkan dalam bacaan kita pada saat ini.
Bapa/ibu, saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus, apa yang terjadi pada waktu itu? Jemaat di Yerusalem pada waktu itu jatuh dalam kemiskinan. Jatuh dalam kemiskinan karena ada bencana kelaparan. Karena itu Paulus sebagai seorang pelayan tidak tinggal diam, dia tidak membiarkan jemaatnya terpuruk, akan tetapi dia berusaha untuk mencari jalan keluar agar supaya jemaatnya bisah keluar dari bahaya kelaparan dan kemiskinan. Dan salah satu strateginya adalah dia mencari bantuan bagi jemaatnya di Yerusalem. Salah satu caranya adalah dengan mendorong jemaat agar turut ambil bagian dalam pelayanan kasih. Pelayanan kasih dalam berupa pengumpulan dana dan pengumpulan persembahan, agar bisa membantu pelayanan di Yerusalem.
Untuk membangkitkan jemaat ini, Paulus memberikan contoh apa yang terjadi di Makedonia. Jemaat-jemaat di Makedonia, mereka yang termasuk di dalamnya jemaat Filipi dan jemaat Tesalonika dan lainnya. Jemaat di Makedonia tidak meninggikan hati mereka. Mereka memberikan dukungan dana kepada orang-orang miskin di Yerusalem. Kemurahan hati mereka merupakan anugerah Tuhan. Padahal mereka sendiri sebenarnya mengalami penderitaan, dan mengalami berbagai kesulitan. Mereka sendiri mengalami kemiskinan. Tetapi sekalipun demikian, mereka memberi dengan sukacita. Mereka memberi melebihi kemampuan mereka.
Teladan jemaat di Makedonia ini seharusnya menjadi motivasi jemaat di Korintus untuk memberi dan berbagai dengan murah hati. Apa lagi jemaat di Korintus adalah Jemaat yang kaya dan Jemaat yang sudah mengalami berkat Tuhan. Sehingga Paulus ini sangat berharap supaya jemaat di Korintus ini termotivasi. Karena melihat teladan Kristus. Paulus ingin agar jemaat di Korintus memiliki kesempatan untuk bisa menolong jemaat di Yerusalem. Sebagai sebuah anugerah dari Allah. Dan respon mereka terhadap kesempatan ini, merupakan ujian bagi mereka kepada Tuhan Yesus Kristus. Akhirnya tujuan dari pelayanan kasih yang dilakukan ini, akan tercipta dan terwujud yang namanya keseimbangan.
Bapa/ibu, saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus, tidak perlu berkelebihan untuk memberi kepada yang berkekuranga di antara sesama jemaat. Namun yang terpenting adalah ada kerinduan untuk saling memberi dan berbagi. Dan itu yang Paulus katakan dalam ayatnya yang ke 15 "Orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan".
Bapa/ibu, saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus, dengan renungan ini oleh sidang raya greja-greja di Indonesia Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI)  menyatakan bulan ini adalah bulan Oikumene. Karena bertepatan dengan hari lahirnya PGI pada tanggal 25 Mei 2016. Tahun ini PGI sudah berusia 66 tahun, usia yang tidak muda lagi. Pada kesempatan ini kita merayakan rahmat Tuhan yang sudah mengizinkan gereja-Nya boleh bertumbuh dan berkembang. PGI berupaya melakukan kebaikan untuk manyatakan damai sejahtera bagi semua orang sebagai amanat pesan ijil. Dengan usia 66 tahun ini kita bersyukur masih meningkatkan kasih dan semangat persaudaraan yang terjadi baik diantara gereja-gereja yang berlatar belakang yang berbeda-beda. Hal ini menunjukkan gereja sebagai satu tubuh Kristus. Kita mensyukuri bahwa di usia 66 tahun ini, kerja sama dengan gereja-gereja lain juga semakin berkembang. PGI bisa bekerja sama dengan gereja-gereja dari luar negeri, sebagai salah satu contoh dengan gereja di Korea lewat kehadiran Pak Ham dari Korea.
Bapa Ibu saudara-saudari, kita tidak boleh merasa puas dengan apa yang boleh terjadi. Karena persoalan terus menerus ada, dan bahkan tantangan pun semakin meningkat. Kita masih terus perihatin ada gereja-gereja yang mengalami gangguan dan ada banyak gereja-gereja yang mengalami pelarangan untuk beribadah. Kemiskinan dan ketidakadilan masih terus membayangi kita. Si kaya semakin kaya dan simikin masih terlalu miskin, itulah salah satu indikator bahwa persekutuan jemaat atau persekutuan masyarakat terjadi ketidak seimbangan. Koripsi masih sulit untuk dibasmi, peredaran narkoba masih sulit dikendalikan. Perdagangan manusia masih terjadi. Keadaan seperti ini diperkuat dengan gaya hidup yang individual. Melihat orang makin tidak peduli dengan orang lain, banyak orang makin tidak peduli dengan keadaan sekitar. Kalau pribahasa berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing berlaku maka saat sekarang ini tidak berlaku lagi, yang berlaku adalah berat kamu pikul sendiri, dan ringan baru kasih saya pikul.  Atau sejauh tidak mengganggu saya itu bukan urusan saya. Itulah komentar yang sering kita dengar, ada jemaat yang bilang “saya tidak merasa rugi juga kalau orang bilang saya jahat atau saya tidak merasa untung juga kalau dibilang saya baik.”
Orang merasa nyaman hidup sendiri dan susah untuk keluar dari rasa hidup yang nyaman itu. Hubungan dengan sesama menjadi hubungan yang bersifat ekonomis. Bukan lagi hubungan sosial yang bersifat alami, yang saling membutuhkan. Orang mulai urus diri sendiri, kumpulkan materi untuk sendiri, mencapai kekuasaan, kedudukan untuk diri sendiri dan kelompok. Sehingga gereja bisa saja terpengaruh dengan gaya hidup seperti ini. Tidak tutup kemungkinan bahwa gereja bisa terpengaruh dengan gaya hidup seperti ini. Kepedulian dengan gereja tetangga masih minim, sementara isi berita injil ini menuntut kita membina persekutuan untuk saling memberi dan berbagi. Masih banyak gereja-gereja di pedesaan untuk membangun cabang saja harus menggunakan alang-alang untuk membangun sebagai atap. Keadaan ini jauh berbeda dengan gereja-gereja yang berada di kota Waingapu. Kepedulian kita masih sangat kurang. Sementara yang lain sudah sangat layak, masih banyak kesenjangan-kesenjangan sosial, baik antar jemaat, antar gereja atau denominasi. Ada orang yang berkelimpahan dalam materi, ada orang yang sangat kekurangan. Persoalan ini sangat serius, tidak bisa dianggap sepele, karena itu dibulan Oikumene ini, gereja-gereja dituntut untuk saling peduli dan berbagi yang didasarkan oleh pesan Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus dalam bacaan kita ini.
Bapa/ibu, saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus, sering kali kita mau memberi atau berbagi kepada sesama karena kita berkelebihan. Kadang kita berfikir kalau kita kaya kita akan pasti memberikan ini dan itu. Kita berfikir untuk memberi dari apa yang tidak ada pada kita. Jemaat GKS Lambanapu sebagai salah satu contoh jemaat yang memiliki kesendaran memberi sangat tinggi. Sehingga pendetanya tidak mengalami kekurangan, dan gereja Tuhan pun terus berkembang dalam segi pelayanan. Kalau kita tidak memberi atau berbagi sulit bagi kita mendapat berkat dari Tuhan, atau dalam filsafa Sumba berkata begini “jaka u wunngung wangu lima jaka bau hangganya na Mawulu Tau napa i Miri na wunggung manggau lima dangu ndena wuanggau kanyuru” yang berarti bahwa jika kita menutup diri untuk memberi kepada Tuhan maka Tuhan pun akan menutup tingkap-tingkap berkat-Nya kepada kita.
Bapa/ibu, saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus, perilaku jemaat di Makedonia menyadarkan kita bahwa kemiskinan bukanlah alasan bagi kita untuk tidak peduli dan tidak berbagi. Teladan jemaat di Makedonia menyadarkan kepada kita bahwa kekayaan tidak diukur dari jumlah materi yang dimiliki melaikan kemurahan hati. Kekayaan akan nampak lewat kita berbagi dan peduli dengan orang lain. Peduli adalah sebuah sikap dan berbagi adalah sebuah tindakan. Peduli menunjukan kepada kita bahwa kita sadar, kita masih hidup bersama-sama dengan orang lain. Kita mengikuti teladan Kristus, bahwa oleh karena Dia kita menderita sekalipun dia kaya, supaya kita menjadi kaya karena kemiskinan. Dalam kepudilian kita harus berbagi. Kita tidak bisa hanya merasa kasihan. Sekedar omong saja tidak akan bisa.  Kepedulian tidak hanya cukup dengan kata-kata. Dalam kepedulian kita, kita harus berbagai. Kita berbagi juga bukan karena kita kasihan atau untuk meringankan kekurangan, namun berbagi supaya ada keseimbangan. Keseimbangan berarti harmonis dalam perbedaan.
Bapa/ibu, saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus, gereja atau kita diutus ke dalam dunia, untuk berbagi dan bersaksi, memiliki cara hidup yang peduli,  dan rela berbagi. Karena itu mari kita mengusahakan kehidupan yang harmonis lewat berbagi. Kelebihan mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka mencukupkan kekurangan kita, supaya ada keseimbangan. Peduli dan berbagi merupakan iman yang harus kita lakukan untuk saling membutuhkan antara satu dengan yang lain. Amin





Senin, 23 Mei 2016

KHOTBAH IBADAH MINGGU GKS LAMBANAPU "KUASA DIBALIK PUJIAN" oleh Pdt. Frans Djawamara, S.Th

KHOTBAH
IBADAH MINGGU, 22 MEI 2016 GKS LAMBANAPU
oleh
Pdt. Frans Djawamara, S.Th


Nats Pembimbing          : Kisah Para Rasul 2:21

Berita Anugerah            : Yesaya  44:22

Petunjuk Hidup Baru      : 1 Petrus 3: 10-12

 Nats Renungan            : Kisah Para Rasul 5  : 17-25

5:17 Akhirnya mulailah Imam Besar dan pengikut-pengikutnya, yaitu orang-orang dari mazhab Saduki, bertindak sebab mereka sangat iri hati.
5:18 Mereka menangkap rasul-rasul itu, lalu memasukkan mereka ke dalam penjara kota.
5:19 Tetapi waktu malam seorang malaikat Tuhan membuka pintu-pintu penjara itu dan membawa mereka ke luar, katanya:
5:20 "Pergilah, berdirilah di Bait Allah dan beritakanlah seluruh firman hidup itu kepada orang banyak."
5:21 Mereka mentaati pesan itu, dan menjelang pagi masuklah mereka ke dalam Bait Allah, lalu mulai mengajar di situ. Sementara itu Imam Besar dan pengikut-pengikutnya menyuruh Mahkamah Agama berkumpul, yaitu seluruh majelis tua-tua bangsa Israel, dan mereka menyuruh mengambil rasul-rasul itu dari penjara.
5:22 Tetapi ketika pejabat-pejabat datang ke penjara, mereka tidak menemukan rasul-rasul itu di situ. Lalu mereka kembali dan memberitahukan,
5:23 katanya: "Kami mendapati penjara terkunci dengan sangat rapinya dan semua pengawal ada di tempatnya di muka pintu, tetapi setelah kami membukanya, tidak seorang pun yang kami temukan di dalamnya."
5:24 Ketika kepala pengawal Bait Allah dan imam-imam kepala mendengar laporan itu, mereka cemas dan bertanya apa yang telah terjadi dengan rasul-rasul itu.
5:25 Tetapi datanglah seorang mendapatkan mereka dengan kabar: "Lihat, orang-orang yang telah kamu masukkan ke dalam penjara, ada di dalam Bait Allah dan mereka mengajar orang banyak."


KUASA DIBALIK PUJIAN
Saudara-saudara, oleh karena Roh kudus, para Rasul diselematkan, roh kudus itu tetap ada di tengah-tengah mereka, Roh kudus adalah Tuhan itu sendiri dengan bentuk lain, menyertai orang percaya khususnya para rasul dalam memberikan kesaksian tentang Yesus yang telah menderita, bahkan mati dan bangkit untuk keselamatan mereka.
Saudara-saudara, para Rasul adalah manusia biasa yang bisa saja karena tidak lagi bersama-sama dengan Tuhan Yesus dan karena tantangan yang semakin besar dan rumit, mereka bisa meninggalkan pelayanan mereka. Melalui bacaan kita, kita bisa mendengar dan melihat, bahwa mereka masih memiliki iman, dan masih mengingat apa yang dikatakan Tuhan Yesus dalam Matius 28:19-20 “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai” . Keyakinan ituluh yang membuat mereka makin berani, bahwa ketika mereka menjalankan perintah dan tugas ini untuk membatis dan menjadikan semua bangsa murid-Nya, mereka yakin bahwa Tuhan tidak pernah membiarkan mereka dalam menghadapi pergumulan-pergumulan pelayanan.
Saudara-saudara, hal ini terbukti ketika kita membaca kitab Kisah Para Rasul, bahwa ada perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan oleh Roh Kudus, karena mereka perca dan karena mereka setia serta terbuka terhadap Roh Kudus yang mengaruniakan mereka hikmat dan kuasa. Mereka tidak membanggakan diri, mereka tidak menonjolkan diri, tetapi justru ketika mereka ditangkap, mereka menyatakan Nama Yesus. Karena itu penting saudara-saudara, Nama itu dihidupkan dalam hidup mereka, bahwa kita juga yang percaya kepada Yesus Kristus juga perlu menghidupkan nama itu, bukan saja mementikan nama pribadi, nama pribadi kita yang sementara di dunia ini.
Saudara-saudara kekasih Tuhan, saat ini kita diperingatkan suatu peristiwa penting, bagaimana para rasul yang karena pelayanan mereka, timbul rasa iri hati dari Imam Besar dan pengikut-pengikutnya yaitu mashab Saduki. Para Rasul ditangkap oleh imam-imam kepala saat itu, ada persaingan dalam pelayanan, para rasul itu melayani dengan makin banyak orang percaya. Hal ini dikarenakan, apa yang mereka katakan itu sejalan dengan apa yang mereka lakukan. Mereka memberitakan firman Tuhan. Sebab mereka juga menyelamatkan orang yang percaya oleh karena kuasa Tuhan. Tidak sama seperti mazab Saduki, imam-imam kepala, hanya memanfaatkan orang-orang agar tunduk kepada mereka bagi kepentingan dan keduduka mereka. Mereka hanya menjadi orang korban dan tidak menyediakan solusi serta tidak mengutamakan kehidupan orang dan iman mereka. Berbeda dengan para rasul, apa yang terjadi dalam kehidupan yang membelenggu orang-orang pada saat itu, dengan kehadiran Tuhan dan dilanjutkan oleh para rasul, situasinya berubah. Karena itu, iri hati timbul, maka persaingan mulai terjadi. Orang tidak merasa takut lagi, mereka meyakini ada Tuhan yang turut bekerja dan menyertai kehidupan mereka.
Saudara-saudara, yang terjadi dalam pembacaan kita, mereka menangkap para rasul dan memasukkan mereka ke dalam penjara kota. Kalau kita membaca dalam Filipi, mereka ditangkap bukan karena mereka mencuri, bukan karena mereka membunuh, bukan karena mereka memfitnah, tetapi karena mereka menyampaikan Nama, Nama yang menyelamatkan yaitu Yesus Kristus, yaitu nama yang senantiasa menolong dan menyelamatkan orang percaya.
Saudara-saudara, Yang menarik ketika mereka ditangkap, mereka tidak membela diri, mereka serahkan diri mereka. Lain halnya kita kalau orang mau tangkap, pasti yang kita tanyakan duluan surat penangkapan, atau menanyakan mana alat bukti yang dituduhkan. Jadi tidak bisa kita tangkap sembarang orang, kita salah tangkap bahaya. Dahulu pada masa Para Rasul tidak demikian. Dengar saja menyampaikan nama Tuhan, langsung ditangkap dan dipenjarakan, dan mereka masuk dalam penjara. Mereka tahu saudara-saudara, bahwa mereka dikurung secara fisik, tetapi secara iman, mereka senantiasa dibebaskan, dan ada satu hal menarik, kalau kita membaca kisah para rasul, ketika Tuhan Yesus menyertai murid-muridnya, Ia menguatkan mereka supaya tetap setia dalam keadaan apa pun, tetap memuji Dia. karena itu waktu mereka ditangkap, kalau kita ditangkap dan masuk penjara pasti kita malu, tunduk dan tutup muka, sampai di penjara kita diam-diam, kalau kita ditangkap masalah harga diri, tetapi para rasul tidak, kalau kita melihat waktu murid-murid memberi diri ditangkap, di dalam penjara mereka tetap memuji Tuhan. Mereka memuji dan bernyanyi tiap saat, sekarang kalau di penjara paling hanya setiap hari minggu adakan ibadah. Tetapi kalau kita belajar dari firman Tuhan, dalam kisah para rasul, mereka tidak malu ketika mereka ditangkap, namun sebaliknya mereka selalu menyanyi memuji Tuhan.
Karena itu saudara-saudara, kita juga perlu merenungkan, sesungguhnya puji-pujian itu bobotnya 2 kali khotbah, karena dalam pujian itu selain memuji juga memberitakan injil. Karena itu Tuhan membuat rahang bawah mulut kita bisa bergerak, agar kita pakai itu untuk bernyanyi, tapi kadang-kadang kita tidak mau kasih bergerak rahang kita. Kita melihat orang bernyanyi, kita merasa heran. Kita ingat cerita tentang kenapa tembok Yeriko itu bisa roboh, bukan karena dihantam oleh bom dan nuklir, tembok itu bisa rubuh karena bangsa Israel menyanyi, sampai 7 kali mengelilingi tembok itu kemudian rubuh. Jadi suara mempunyai kuasa yang dahsyat, untuk menyatakan sesuatu, dengan suaru, dengan nada tertentu orang bisa mati, bisa hilang masa depan. Suara itu punyai kuasa, punya daya untuk berbuat sesuatu, jangankan suara, menatap saja bisa mengalahkan seseorang, karena itu dengan tatapan saja orang bisa menundukkan orang lain, karena lewat tatapan itu ada kuasa dan kekuata yang kadang-kadang membuat orang menangis.
Saudara-saudara, para murid-murid memuji Tuhan, dan dalam kurungan penjara itu, mereka dibebaskan bukan karena merontak, tetapi karena Tuhan datang menyampaikan pesan, dan pesan itu mereka taati, supaya masuk ke dalam bait Allah. Sementara pintu-pintu penjara terkunci, dan dijaga, apakah penjara itu tertidur, karena ketiduran menjaga semalam suntuk, tapi yang jelas dalam pembacaan ini, pintu-pintu penjara, telah terbuka dan tertutup dengan rapinya dan para penjaga ada menjaga penjara tersebut. Setelah pagi ketika mereka mau di sidang, untuk menjatuhkan hukuman mati bagi mereka, seseorang berkata, lihat orang-orang yang mau disidang ada di bait Allah (ay.25). Mereka tidak lari, karena mereka tahu Tuhan yang membebaskan.
Hal ini yang perlu kita renungkan kehidupan kita saudara-saudara, berdasarkan firman Tuhan ini kita belajar bahwa: Yang pertama, kadang-kadang kita meragukan kuasa Tuhan. Kita hanya mementikan nama kita pribadi, kita tidak tampilkan Nama Tuhan dalam segala hal. Oleh karena itu, kita tidak berdaya dalam iman. Jikalau kita belajar dari firman Tuhan saat ini, bagaimana kita tetap percaya kepada Tuhan, walaupun kita tidak melihatnya, tetapi Roh Kudus selalu ada di tengah-tengah kita, dalam suka cita bahkan dalam duka cita.
Yang kedua saudara-saudara yang perlu kita catat, dari firman Tuhan saat ini, bagaimana mereka mendengar perintah itu, dan mereka tetap mentaatinya (ay.21). Tuhan memberikan telinga kepada kita, Tuhan memberikan pikiran dan pertimbangan-pertimbangan, tapi kadang kita mendengar, tapi kita tidak melaksanakan, atau dengan kata lain kita tidak mentaati firman Tuhan. Hal ini saudara-saudara, sehingga terkadang kita mengalami kegagalan-kegagalan lalu mempersalah Tuhan sumber penolong bagi kita.
Yang ke tiga, saya kira, kita perlu belajar, apa yang ditunjukkan oleh para rasul, ketika mereka dibelenggu, mereka tetap percaya. Satu hal penting, dalam keadaan tidak memungkinkan, mereka tetap memuji Tuhan, mereka menyanyi dan tetap menunjukkan iman kepada Tuhan. Tuhan membongkar penjara-penjara dan pintu-pintu dan mengeluarkan mereka, lalu mereka tetap kembali di bait Allah, sebagai bentuk kesaksian, bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.

Karena itu saudara-saudara kekasih Tuhan, kita perlu merenungkan firman Tuhan ini, sebagai orang yang masih diberikan kesempatan, menjalani kehidupan ini, menjalankan pelayanan-pelayanan dan kebaktian kita, mungkin tidak sama dengan apa yang dialami oleh para rasul waktu itu, tetapi tantangan kita ada dalam bentuk-bentuk yang lain, dan kita tetap maju dengan iman yang tetap percaya bahwa Tuhan turut bekerja, sebab siapa yang percaya kepadaNya, akan diselamatkan, Amin.  

Senin, 02 Mei 2016

Kebahagiaan (Ibadah Minggu GKS Lambanapu oleh Ibu Vic. Yuliana W. Kilimandu, S.Th)

GKS Jemaat Lambanapu
Ibadah Minggu 01 Mei 2016
Oleh Ibu Vic. Yuliana W. Kilimandu, S.Th

Nats Pembimbing       : Amsal 4:23
Berita Anugerah           : Roma 10: 8-11
Nats Renungan             : I Petrus 3: 13-17
3:13 Dan siapakah yang akan berbuat jahat terhadap kamu, jika kamu rajin berbuat baik?
3:14 Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar.
3:15 Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat,
3:16 dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.
3:17 Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, dari pada menderita karena berbuat jahat.


KEBAHAGIAAN

Saudara-saudara, Apa yang bisa membuat orang mengalami kebahagiaan?
Jika kekayaan bisa membuat orang bahagia, Adolf Merckle (orang terkaya dari Jerman) tidak akan menabrakkan badannya di kereta api.
Jika ketenaran bisa membuat orang bahagia, tentu Michael Jackson (penyanyi terkenal) tidak akan meminum obat tidur kemudian mati karena overdosis.
Jika kekuasaan bisa membuat orang bahagia, tentunya G. Vargas (presiden Brail) tidak akan menembak jantunya sendiri.
Jika kecantikan bisa membuat orang bahagia, Marilyn Monroe (artis cantik) tidak minum alkohol dan obat-obatan hingga over dosis.
Jika kesehatan bisa membuat orang bahagia, tentu Tierry Costa (dokter terkenal di Prancis) tidak akan bunuh diri akibat acara di sebuah televisi.

Saudara-saudara, Dari sini dapat dilihat bahwa bahagia atau tidaknya seseorang, itu bukan ditentukan oleh seberapa kaya, seberapa tenar, seberapa cantik, seberapa besar kuasa, seberapa sehat atau seberapa suksesnya seseorang. Akan tetapi yang bisa membuat seseorang bisa bahagia adalah dirinya sendiri.
Kita tahu dalam perjalanan kehidupan rasul Petrus, dia adalah seorang yang keras hati, panas hati dan tidak sabar dan seringkali hati penuh dengan amarah. Namun ia pernah merasa tidak bahagia atau sedih karena pernah menyangkal Yesus sebanyak 3 kali, ada rasa bersalah yang ditunjukkan Petrus (bnd, Makus 14:72). Ia menangis teseduh-seduh saat mengingat kembali perkataan Yesus, bahwa sebelum ayam berkokok ia telah menyangkal Yesus sebanyak 3 kali. Dan hal itu benar-benar terjadi. Petrus begitu menyesal sehingga ia sampai menangis terseduh-seduh, ia merasa bahwa dia tidak pantas lagi disebut murid saat itu. Tetapi Yesus tidak membiarkan Petrus ada dalam kepurukan demikian, tidak membiakan Petrus menyesal berlarut-larut dan bahkan ia dipulihkan lewat menampakan Tuhan Yesus.
Dalam penampakan, Yesus Kristus kepada Petrus dan murid-murid lain, mereka semua dipulihkan kembali dan kepada murid-murid-Nya. Secara khusus Yesus memberikan pertanyaan yang berulang-ulang kepada Petrus yang mengatakan bahwa “Apakah engkau mengasihi Aku? Yesus memulihkan hati Petrus yang dulu diliputi ketakutan sehingga berani. Penyangkalan Petrus terjadi dikarenakan ia merasa takut, merasa kuatir dan tidak mau mengakui Yesus saat itu oleh karena penderitaan yang akan dihadapi. Namun Yesus bukan Tuhan yang membiarkan Petrus berada dalam penyesalan dan ketidak bahagiaan. Tuhan Yesus memulihkan kembali Petrus dan murid-murid lainnya. Pemulihan inilah sehingga dikemudian hari Petrus menjadi seorang rasul yang berani untuk tidak menyangkal Yesus lagi, kendatipun banyak ancaan penderitaan, penganiayaan yang dihadapinya. Bahkan pada akhirnya ia bersedia disalibkan terbalik dengan tetap tidak menyangkal Tuhan Yesus.
Saudara-saudara, Dalam bacaan kita pada saat ini Petrus menasehati Jemaat Kristen yang sedang menghadapi penganiayaan. Mereka difitnah, dihina, diperlakukan tidak adil. Hal ini terkait dengan orang Kristen saat surat ini diturunkan masih minoritas. Bagaimana mungkin mereka bersikap untuk memberontak, tentu merupakan hal yang konyol karena mereka hanyalah minoritas. Untuk itulah rasul Petrus belajar dari pengalaman hidup yang tidak mengandalkan keegoisannya. Ia menasehati agar orang Kristen sedapat mungkin mencegah perbuatan buruk orang lain dengan melakukan perbuatan baik. Jika memang ada hal-hal yang membuat orang Kristen menderita, ia harus tetap bahagia. Bahagia di sini yaitu rasa syukur dalam diri seseorang karena tahu bahwa ia telah melakukan apa yang benar. Ia tahu bahwa ia telah melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Mesti ada hal yang bisa membuat ia merasa takut dan gentar karena berbagai kesusahan atau penderitaan
Saudara-saudara, Setiap orang kalau menganggap kebahagiaan bisa dibeli, pasti orang kaya akan merasakan kebahagian dan jikalau kebahagiaan ada di suatu tempat, pasti belahan dunia lain di bumi ini akan kosong karena semua orang akan berkumpul dimana kebahagiaan berada. Untunglah kebahagiaan ada dalam hati setiap manusia. Jadi kita tidak perlu membeli atau pergi mencari kebahagiaan. Yang kita perlukan hanyalah hati yang bersih, karena hanya hati yang bersilah dapat memiliki kebahagiaan.
Saudara-saudara, Hati yang mengundang Kristus tidak akan mudah diliputi emosi yang meluap-luap. Karena emosi orang bisa bertindak salah. Setiap orang bisa mempunyai hati yang tulus dan murni sehingga dapat menjadi pribadi yang siap mempertanggungjawabkan iman pada orang yang hidup dalam kejahatan. Terkadang setiap kita tidak menyadari kebahagiaan dalam diri kita, sehingga ada orang yang berusaha untuk meraih kebahagiaan dengan hal-hal yang salah, bahkan pada akhirnya merugikan diri sendiri, orang lain dan atau mengecewakan Tuhan.
Ada yang merasa bahagia jika dapat membahas keburukan orang lain. Ada yang bekerja tanpa mengenal waktu hanya untuk mendapatkan uang demi mencari kebahagiaan, namun pada akhirnya sakit. Akibatnya timbulah kurang komunikasi dengan keluarga dan kemudian mencari kebahagiaan melalui perselingkuhan, korupsi, mencuri dan lain-lain.
Saudara-saudara, Ketika seorang Kristen tetap rajin berbuat yang baik maka ia akan berbahagia. Kebahagiaan dalam dirinya akan muncul meski ada penderitaan-penderitaan, kesusahan-kesusahan yang dihadapi, karena seorang dapat merasa bahagia karena dirinya tahu, ia telah melakukan apa yang benar atau seharusnya dilakukan oleh seseorang.
Perbuatan baik dan benar tidak akan menghadirkan penyesalan, kesedihan atau ketidakbahagiaan. Meski ada tantangan, ancaman yang dihadapi, kebahagiaan ada dalam diri setiap orang. Kebahagiaan yang sesungguhnya hanya dialami oleh setiap orang yang menempatkan Kristus sebagai Tuhan dalam hatinya. Hati nurani yang murni atau bersihlah yang dapat menghadirkan perasaan bahagia meski ada banyak penderitaan dan pergumulan hidup. Dan hati manusia hanya akan menjadi hati nurani yang bersih jika setiap orang menguduskan Kristus dalam hatinya. Terus menaruh rasa hormat pada Yesus, dan hanya Yesus yang menjadi perlindungan kita dalam segenap kehidupan kita.
Saudara-saudara, dengan mengundang Kristus masuk dalam hati sajalah yang akan menolong setiap orang untuk tidak menyangkali Tuhan dalam hidupnya, meski ia harus berhadapan dengan orang-orang yang berbuat jahat pada dunia. Dengan Kristus bertahta dalam hati maka Tuhan akan memberi kemampuan kepada kita untuk menanggung segala hal, bahkan permasalahan dan penderitaan.
Saudara-saudara, Petrus adalah orang yang ego, tapi setelah dipulihkan ia yang pertama berani mati untuk Yesus. Petunjuk Hidup Baru mengingatkan kita untuk bersukacita senantiasa, tetap berbahagia di dalam Yesus Kristus. Karena Yesus dapat memperbaharui hati dan pikiran kita. Hati adalah pusat pengendalian sikap, hati mencerminkan siapa kita sesungguhnya. Hati adalah sumber mata air, kalo sumber kotor, maka kotorlah airnya. Namun bila bersih maka bersihlah airnya. Yesus adalah sumber air kehidupan. Karena itu biarkan hati kita dipulihkan oleh Yesus sehingga menjadi sumber air kehidupan dalam diri kita.  
Nats Pembimbing berkata jagalah hati dengan segalah kehidupan kita, sehingga terpancar kehidupan. Kehidupan kita adalah ekspresi dari hati kita. Kehidupan Petrus telah menunjukkan kepada kita, ia emosi, ia menjadi tidak sabar, ketika ia takut, ia mudah menyangkal, bila ia terancam ia lari. Tetapi Tuhan menguatkan dan memulihkannya untuk memiliki hati yang mengasihi Tuhan. Kehidupannya berubah ketika  Kristus dalam hatinya, sehingga ia menjadi seseorang yang rendah hati. Ini pula lah yang perlu ada dalam diri kita, bagaimana Kristus ada dalam hati kita dengan selalu berbuat baik, sabar, rendah hati. Sehingga pada waktunya, kita dapat menikmati kebahagiaan.
Saudara-saudara, Tuhan tidak pernah menaruh kebahagiaan di tempat tinggi yang sulit di jangkau oleh manusia atau pun di tempat yang rendah sehingga mudah sekali manusia mendapatkannya. Namun Tuhan menaruh kebahagian itu di dalam hati setiap manusia. Masïhkah kita mencari kebahagian itu di tempat lain? Amin.


Editor: Pnt. Enos K. Nggongu, S.Pd

Sabtu, 30 April 2016

Pengujian dan Pencobaan (Ibadah Pemuda GKS Lambanapu oleh Pnt. Enos K. Nggongu, S.Pd)

Pengujian dan Pencobaan
oleh
(Pnt. Enos K. Nggongu, S.Pd)

Bacaan: Yakobus 1: 1-12
     1:12 Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.
     1:13 Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: "Pencobaan ini datang dari Allah!" Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun.
    1:14 Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.
1:15 Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.
1:16 Saudara-saudara yang kukasihi, janganlah sesat!
1:17 Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.
1:18 Atas kehendak-Nya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya kita pada tingkat yang tertentu menjadi anak sulung di antara semua ciptaan-Nya.


Saudara-saudara, Tentu nats di atas ini bukan hal yang baru bagi kita baca dan renungankan. Namun penting bagi kita untuk senantiasa merenungkan akan firman Tuhan karena kita manusia memiliki kecenderungan berbalik kepada hal-hal yang dapat membawa kita jauh dari kasih Tuhan. Saat ini kita belajar lagi tentang pencobaan dan pengujian. Sebagai manusia yang masih menjalankan kehidupan di dunia ini tentu kita tidak bisa terlepas dari kedua hal tersebut.
Saudara-saudara, banyak yang sudah mengetahui perbedaan dari kedua kata ini yang secara sepintas sulit kita bedakan. Namun tidak sedikit juga yang masih bingung dengan kedua kata ini, apa lagi jika dikaitkan dengan apa yang dialami dalam kehidupan iman Kekristenan saat ini. Tidak sedikit orang beranggapan bahwa cobaan yang ia hadapi adalah sebuah ujian, dan ujian yang dihadapi dianggap sebagai cobaan.
Saudara-saudara, saya ingin mengajak kita untuk membangun pemahaman yang sama bahwa kedua makna kata ini sangatlah berbeda. Berdasarkan asal katanya, “Pengujian” berasal dari kata “Uji” dan Pencobaan berasal dari kata “Coba”. Berdasarkan KBBI pengertian “Uji” adalah tindakan untuk mengetahui mutu sesuatu. Kata ini sering juga dibeikan akhira  “-an” sehingga menjadi “Ujian”. Kata “Ujian” sering dipakai untuk mengetes sejauh mana pemahaman siswa di sekolah. Apa yang diuji adalah materi yang sudah pernah di kasih guru kepada siswa. Sedangkan “Coba” adalah kata kerja yang menunjukan untuk melakukan sesuatu untuk mengetahui keadaan, merasai dan lain sebagainya, yang pada dasarnya belum dilakukan sebelumnya. Contohnya adalah, jika seorang yang tidak pernah merokok namun kita mau melakukan tindakan merokok, berarti dalam hal ini kita mencoba. Sehingga kita bisa mengambil kesimpulan bahwa “coba” dipakai untuk sesuatu yang sebenarnya belum kita tahu, dan ada keinginan dari hati kita untuk melakukannya.
Saudara-saudara, mari kita coba perhatikan nats renungan kita pada ayat 1 “Berbahagialah orang yang mengalahkan pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkita kehidupan yang dijanjukan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia”.  Tentu kita akan bertanya mengapa ayat yang sama ini memakai dua istilah yang berbeda. Hampir semua ayat dalam Alkitan yang memuat tentang kedua istilah ini memberikan perbedaan yang jelas. Apa maksud penulis kitab Yakobus ini menggunakan istalah yang berbeda dalam satu ayat? Mungkinkah penulis tidak membedakaan makna kedua istilah ini? Ataukah terjemahan yang salah? Terjemahan dalam berbagai bahasa pun tetap menggunakan istilah seperti ini. Seolah-olah prinsip dicobai dan diuji itu sama. Justru tidak, karena ujian itu ujian, pencobaan itu bukan ujian, tetapi satu-satunya pengujian dan pencobaan dipaparkan dalam satu ayat di dalam kitab suci, hanya ayat ini. Mengapakah Yakobus, seolah-olah kurang jelas membedakan pengujian dan pencobaan? Mengapakah Yakobus mempersatukan 2 istilah ini dalam 1 ayat. Mengpakah Yakobus tidak memberikan penjelasan, tidak memisahkan kedua istilah ini dan seperti campur baur, seperti kacau balau. Mengapa dia memakai 2 istilah ini dalam satu ayat. Ada orang yang bilang bahwa kalimat pencobaan ini tidak tepat digunakan di ayat ini, ada juga yang bilang kata pencobaan ini perlu pemahaman yang lebih mendalam. Temtation is not a test or examination. Ujian dan pencobaan itu berbeda.
Ujian dan percobaan itu memiliki 3 perbedaan.
  1. Ujian mempunyai sumber yang berbeda dari pencobaan. Ujian dari Allah dan pencobaan dari setan.
  2. Mempunyai sifat yang berbeda antara ujian dan pencobaan. Ujian bersifat baik, dan pencobaan bersifat jahat
  3. Tujuan yang berbeda antara ujian dan pencobaan. Ujian bertujuan meneguhkan, menyempurnakan dan melengkapi orang- orang pilihan Tuhan. Sebab pencobaan bertujuan merusak, menggoda, membawa kita dalam kejatuhan dalam dosa.

Saudara-saudara, Sehingga dari pengertian tersebut kita bisa mengambil kesimpulan bahwa kedua istilah tersebut secara sumber berlainan, sifat berlainan, dan tujuan berlainan. Tuhan bertujuan baik, dan setan bertujuan tidak baik, atau mencelakakan kita. Oleh karena itu kita harus mampu membedakan kedua hal tersebut, sehingga ketika kita ada dalam pencobaan kita tidak mencela Tuhan.  Kisah Abraham diuji dan Kisah Ayub dicobai. Adalah contoh bagaimana Alkitab memberikan perbedaan yang sangat jelas.
Saudara-saudara, dalam Alkitab mengisahkan bahwa iman Abraham diuji. Hal ini dikarenakan bahwa  apa yang dialami oleh Abraham, dimana dia harus mengurbankan anaknya untuk dipersembahan kepada Allah, adalah atas perintah Allah sendiri. Sehingga kita bisa mengambil kesimpulan bahwa ujian itu datang dari Allah. Sebaliknya apa yang dialami oleh Ayub adalah datangnya dari iblis dan atas ijin Allah sendiri. Hal ini bukan berarti bahwa Allah bekerja sama dengan setan untuk mencobai Ayub. Atau Allah dalam khasus ini telah memperalat setan. Allah tidak perlu memperalat Setan untuk menguji manusia, tapi yang benar adalah bahwa Allah membiarkan setan untuk mencobai manusia supaya ketika manusia mengalami pencobaan, di sanalah Allah menunjukkan kuasaNya yang dapat mengalahkan setan, karena manusia pasti dimampukan oleh Allah untuk mengalahkan pencobaan. Artinya Allah mau tunjukan atau menyatakan kemenanganNya mengalahkan setan.
Saudara-saudara, inilah sebabnya mengapa penulis kita Yakobus memparalelkan kedua istilah yang berbeda seolah-olah maknanya sama. Dari kisanya Ayub kita belajar bahwa Allah mengijinkan segala pencobaan datang kepada kita, karena lewat pencobaan secara tidak langsung Allah telah menguji kita. Karena jikalau kita menang dalam pencobaan maka dengan sendirinya kita telah tahan uji, dan ketika kita tahan uji, kita akan menerima mahkota kehidupan dari Allah.
Allah tidak pernah ada niat yang tidak baik untuk orang yang mengasihiNya. Trus mengapa jika kalau Allah tidak berniat atau bermotivasi yang jelek. Tapi mengapa Allah membiarkan sehingga kita manusia mengalami itu semua, mengalami kesedihan, air mata, kesulitan yang besar, pengeluhan kita tidak habis-habis, terus kecewa, putus asa, mengapa Tuhan membiarkan kita dalam kesulitan seperti ini?
Saudara-saudara, Manusia memang dicipta dalam sebuah proses waktu, manusia dicipta dengan harus melewati deti-detik, jam-jam, untuk membentuk hidup kita. Original Perfection created perfect perfetion through exam. Pada waktu Adam dicipta sempurna, Padwa waktu Yesus dilahirkan ke dalam dunia sempurna sebagai seorang manusia yang paling sempurna. Tetapi Adam akhirnya gagal, sempurnanya hilang. Yesus sudah sempurna, dicobai dia menang. Dia menang menuju kepada kesempurnaan yang lebih sempurna. Inilah yang dimaksud dengan kesempurnaan yang terjadi setelah proses. Itu sebabnya Tuhan Yesus pun sebagai Anak tidak luput dari pencobaan untuk menuju kesempurnaan yang lebih sempurna, tidak luput dari Ujian Allah. Karena ini adalah sesuatu No Exception. The absolutely necessety to be tempted. Biarpun Yesus adalah Anak Allah Yang Maha Tinggi, tetapi Dia harus menghadapi pencobaan dan pengujian.
Saudara-saudara, banyak anak orang kaya gagal karena dikira anak yang istimewa. Kegagalan mereka dikarenakan karena mereka tidak mau hidup susah, tidak mau menghadapi cobaan dan ujian dalam hidup. Mau lulus di bidang apa saja selalu mencari jalan pintas. Oleh karena itu, kita menjadi pemuda atau anak harus berjuang sendiri.  
Saudara-saudara, pada akhirnya nanti hanya dua hal yang akan terjadi dalam hidup kita yakni kita mengalahkan setan atau kita dikalahkan setan. Ingat bahwa segala pencobaan tidak datang dari Allah, melainkan datangnya dari setan dan keinginan kita sendiri. Sehingga tidak ada alasan kita mempersalahkan Allah ketika kita jatuh dalam pencobaan. Kita berada dalam sebuah pilihan, tinggal bagaimana kita sekarang mau memilih hidup yang kekal atau kematian yang kekal.
Saudara-saudara, jika kita menghendaki kehidupan yang kekal, maka kita harus bisa mengalahkan setan dan pencobaannya. Mengalahkan setan tidaklah mudah, dia banyak akal dan tipu dayanya. Sehingga tidak ada cara lain selain kita berpihak kepada Allah. Karena atas kuasa dan ijin Allah lah kita bisa menghadapi semuanya itu, asalkan kita mau mengandalkan Tuhan dalam segala hal.
Saudara-saudara, kita pun harus bersyukur ketika pencobaan dan ujian itu datang dalam hidup kita. Karena melalui itulah Allah dapat mengetahui mutu iman kita kepadaNya. Kita pun tidak bisa mengalahkan pencobaan atau tahan dalam ujian dengan mengandalkan kepandaian kita saja, karena tidak ada satu manusiapun di dunia ini yang bisa menolong manusia berdosa lainnya. 


Jumat, 29 April 2016

Pikulah Salib Mu (Bear Your Cross) oleh Pnt. Enos K. Nggongu, S.Pd

PIKUL SALIB untuk Ibadah Pemuda GKS Lambanapu (oleh Pnt. Enos K. Ndaha Nggongu, S.Pd)




PIKUL SALIB
oleh 
(Pnt. Enos K. Ndaha Nggongu, S.Pd)


Nats 
Matius 16:24 Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.

Lukas 9:23 Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.

Lukas 14:27 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.



1.       Pengertian Menyangkal Diri
Menyangkal artinya apa?
A.      Menyangkal = tidak
Menyangkal artinya menyatakan tidak (Say no). Anda yang ambil ya? Tidak. Itu contoh menyangkal. Jadi menyangkal diri artinya menyatakan tidak pada diri sendiri. Jadi contoh kalo ada yang tanya Ini Pa Enos atau Ka Enos ya? Saya jawab Tidak / Judika.
Menyangkal diri artinya menyatakan tidak pada keinginan sendiri, karakter sendiri, kemauan sendiri, melawan kemauan, keinginan, dan nafsu-nafsu, dorongan-dorongan yang ada dalam diri sendiri.
Menyangkal diri memiliki arti berkata tidak untuk “perbuatan tertentu” yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita.
B.      Menyangkal = Lupa
Alkitab Terjemahan New English Version menggunakan kata “Forget” untuk kata menyangkal. “Forget” itu sendiri memiliki arti “lupa/melupakan”, sehingga Menyangkal diri bisa berarti kita lupa dengan diri kita. Maksudnya kita lupa akan kehidupan kita yang lama, yang penuh dengan dosa dan kita menepaki kehidupan yang baru yang sudah ditebus oleh Tuhan Yesus lewa pengorbanNya di kayu salib. Melalui pengorbanan Tuhan Yesus, kita dituntut untuk melupakan segala dosa kita, melupakan semua kesenangan kita, karena Allah sendiri tidak mengingat-ingat lagi pelanggaran kita. Melupakan di sini juga bisa berarti kita tidak mau mengulang lagi setiap kesalahan dan pelanggaran kita di hadapan Allah.

2.       Memikul Salib
  1. Memikul Salib = Fokus
Apa bedanya mengikut sambil memikul dan mengikut sambil tidak memikul? Ngikut sambil pikul, ngikut seseorang sambil pikul, dan ngikut sambil tidak pikul. Jangan bilang ngikut sambil pikul berat dan ngikut sambil tidak pikul itu ringan, saya tau itu. Saya mau pake ilustrasi untuk menjawabnya. Seringkali di mol-mol atau di tempat keramaian. Sering diumumkan kaya gini, “telah ditemukan seorang anak dengan ciri-cirinya. Yang merasa kehilangan anak silahkan menghubungi ruang informasi atau keamanan. Kalo ada kejadian seperti ini, coba kita berfikir, biasanya anak-anak itu kan datang bersama ibunya. Anak itu pasti mengikuti mamanya atau ibunya. Tapi kenapa dia bisa terpisah, karena dia ikut mamanya tapi tidak memikul apa2, dia tidak punya beban, dia ikut mamanya tapi ringan. dan sementara itu ada banyak godaan kan? Dia ikut mamanya, tapi mata di tempat lain, mulai lihat mobil-mobilan bagus, robot-robotan bagus. Jadi dia tergoda terhadap hal-hal lain yang ada di sekitarnya. Sementara itu mamanya juga lihat yang lain seperti mutiara bagus, kalung bagus dan lain sebagainya. Dan tanpa sadar mereka dipisahkan oleh arus manusia yang banyak. Mengikut Yesus tanpa memikul beban yang berat, buat kita mudah tergoda, membuat kita tidak fokus.
Sebaliknya, bayangkan jika ibu itu membeli beras 1 karung dan dibantu oleh penjaga toko untuk memikul beras itu dan mengikuti ibu itu sampai ke kendaraan ibu itu. Pertanyaannya, mungkinkah tukang pikul beras itu masih sempat mata ili ala melihat kiri-kanan selain memandang kemana arah ibu itu yang berjalan di depannya? Bukankah dia akan fokus mengikuti ibu itu dan dalam hatinya harus cepat sampai di tempat di mana dia harus meletakkan beras itu? Apa arti ilustrasi ini? Mengikuti Yesus, menjadi murid Yesus, punya tanggung jawab yang harus kita pikul.
Memikul salib artinya Punya konsekuensi yang harus kita pikul, punya tanggung jawab yang harus kita pikul. Ketika kita pikul beban itu, ketika kita pikul tanggung jawab itu, ketika kita pikul konsekuensi itu, kita akan menjadi orang yang fokus. Saya percaya ketika kita menjadi orang kristen kita tulus tetapi kita tidak mau memikul resiko itu maka kita menjadi gagal di tengah jalan ketika ada tawaran-tawaran duniawi dan beralih. Jadi ada tanggungjawab, konsekuensi, dan beban yang harus dipikul, itulah yang disebut salib. Salib siapa yang harus kita pikul. Coba lihat di ayatnya disitu berkata salibnya (sendiri). Berarti salib kita, bukan salib Yesus, Kita tidak perlu lagi memikul salib Tuhan Yesus, karena Tuhan Yesus sudah selesai memikul salibnya. Tetapi ketika kita mengikuti Dia, Dia meletakkan salib di atas pundak kita.

  1. Memikul Salib = Penderitaan
Masing-masing kita memiliki salib dalam hidup. Dan salib itu wujudnya beda-beda dalam hidup kita masing-masing. Salib saya dan salib anda beda, wujudnya beda. Tapi hakekatnya sama. Tau gak hakekat salib itu? Hakekat salib adalah Penderitaan. Jadi salib selalu bermakna penderitaan. Tetapi tidak setiap penderitaan adalah salib. Jangan karna anda pencuri kemudian babak belur dipukul orang kemudian beranggapan itu adalah salib anda. Atau korupsi, narkoba masuk penjara kemudian beranggapan itu salib kita. Tetapi Tidak. Sedangkan Hakekat salib adalah penderitaan yang dimaksud adalah penderitaan karena Taat kepada Kristus. Karena taat kepada Kristus kita menderita maka itu salib.
-          Biar saya tipu orang tua untuk uang foto kopi pelajaran yang penting saya bisa isi pulsa. Itu bukan salib.
-          Tapi kalo berfikir biar saya tidak punya pulsa tapi tidak tipu orang tua itu baru salib.
-          Atau ada sakit, baru ke dokter tidak sembuh-sembuh, tapi orang lain bilang di situ ada dukun atau di sini ada dukun.
-          Tapi salib artinya apa? Biar saya tidak sembuh saya tidak ke dukun.
-          Kalo kamu punya pacar baru tidak seiman lebih baik putuskan. itu baru salib. Yang penting tidak menyangkal Yesus.
Jadi salib itu penderitaan karena Taat.
-          Siswa kristen harus berfikir biar saya tidak lulus ujian yang penting saya tidak nyontek. Saya adalah guru bahasa inggris di SMA Nggoa. Waktu saya mengajar siswa saya tidak perhatikan, padahal menurut saya, saya sudah mengajar dengan metode yang menarik. Tapi mereka tidak perhatikan, sementara saya ngajar. ngobrol sana, ngobrol sini. tapi begitu ujian leher kayang angsa. Leher ditarik panjang-panjang mulai nyontek.
-          Jadi salib artinya sekalipun orang tidak benar tapi saya tetap mau taat walaupun itu sakit tapi itu adalah salib.
-          kita orang kristen di indonesia, kita punya salib sendiri. bersyukur kita ini punya tempat ibadah yang bagus dan bebas beribadah, tetapi saudara-saudara kita di Jawa tidak. tapi justru iman mereka lebih kuat. Itu adalah resiko bagi kita karena berada di negara yang mayoritas islam. tapi itu adalah salib bagi kita. tapi kita percaya pasti ada maksud Tuhan bagi kita. Biarkita minoritas atau jumlah sedikit dibandingkan dengan agama lain di Indonesia tapi Tuhan menghendaki iman yang berkualitas dan bukan sesuai kuantitas atau jumlah.
-          Banyak orang kristen bernyanyi dan memuji Tuhan namun tidak mau memikul salib. Atau berkotbah, rajin beribadah, bahkan hampir setiap hari pimpin ibadah tapi tidak mau memikul salib. Mari kita jujur dengan diri kita dengan sesama kita dan terutama dengan Tuhan. Tapi itulah realitas kekristenan kita. kita hanya mau melakukan apa yang gampang bagi kita. kita mau dimanja trus. Tuhan yang menghukum manusia karena dosa namun Tuhan pulah yang menyediakan pengampunan bagi kita secara Cuma-Cuma. tapi itu pun kita tidak mengindahkannya.
-          Mari kita jujur apakah kita memikul salib kita. dan sudah sesuai dengan kehendak Tuhan atau tidak. Ataukah kita melayani Tuhan atau memikul salib supaya kita dapat pujian dari orang lain atau supaya orang lain menganggap kita hebat bisa bawakan renungan, bisa doa, bisa berperan dalam drama penyaliban nanti. Salib itu mengandung penderitaan. tapi tidak semua penderitaan itu salib. karena hanya penderitaan oleh karena taat dan melakukan yang benar di mata Tuhan itu barulah disebut salib.

3.       Mengikuti Tuhan
  1. Mengikuti Tuhan = Menjadi Murid
Jika kita melihat seluruh nats dalam Injil Matius maka ada syarat yang cukup berat buat kita menjadi pengikut Tuhan/Murid Tuhan. 
Tinggalkan pekerjaannya
Tinggalkan orang tua
Tinggalkan sanak saudara
Tinggalkan rumah
Tinggalkan hartakekayaan
Tinggalkan kawan-kawan
Tinggalkan pacar
Tinggalkan kampung halaman
Tinggalkan segala-galanya
Seorang pengikut Yesus harus menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Yesus. Jadi, beranikah kita mengambil konsekwensi ini? Meninggalkan apa yang kita suka dan senangi. Orang yang suka berbohong dan lain sebagainya. Kemudian arahkan kehidupannya menjadi seorang yang patuh pada perintah Tuhan, rajin ke gereja, baca Alkitab setiap hari, berdoa dan melakukan firman Tuhan.
Billy Graham mengatakan :"Keselamatan itu gratis, tetapi untuk menjadi murid ada harga yang dituntut , yakni segala sesuatu yang anda miliki"

  1. Mati Selagi Hidup
Mau hidup lebih baik?
Matilah selagi Hidup! Pasti kening anda berkerut memikirkan kalimat yang tak lazim ini bukan? Matilah selagi hidup, bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Kita ingin hidup, selagi hidup, menikmati hidup seberapa yang kita bisa. kita berusaha memanfaatkan hidup untuk kepuasan sekalipun melanggar kebenaran. Mati selagi hidup, bukankah itu sebagai suatu pembodohan? jangan buru-buru menilai berdasarkan keinginan nafsu. Mari kita bepikir dengan jernih dan coballah  lihat Mati selagi hidup merupakan pemikiran yang sangat menarik. Maksudnya adalah Anda harus mematikan, membunuh apa yang membuat anda tidak hidup didalam hidup itu.  Apa yang membuat seseorang tidak hidup dalam hidup? Ya Kejahatan, kemunafikan, keberdosaan, penipuan, dan beranekaragam perbuatan- perbuatan tidak benar. Itu sudah membuat orang tidak mampu hidup, dan bahkan ia sudah kehilangan kehidupan. Mati selagi hidup bukanlah orang yang kehilangan kehidupan, Justru mendapatkan kehidupan di dalam kematian terhadap rasa yang tidak pada tempatnya, kematian terhadap dosa, kematian kepada ketidak benaran, itu yang harus dibangunnya. Mati selagi hidup alangkah indahnya karena mati selagi hidup membawa tiap orang berjalan dalam kehidupan, menggapai hal-hal yang tinggi sehingga hidupnya menjadi sangat berarti. Mati selagi hidup membuat hidup menjadi sangat hidup, mati selagi hidup membuat hidup menjadi sangat berarti, mati selagi hidup membuat hidup menjadi sangat bernilai. Tidakkah kita mau hidup menjadi lebih baik? Karena itu Matilah selagi Hidup. Bukan mati yang membunuh diri. Mati selagi hidup artinya kita mati dalam keinginan yang salah dan hidup dalam keinginan yang benar. sehingga kita Mati dalam Kesalahan dan Hidup Dalam Kebenaran.